Kemenag Catat 8 Ribu Prestasi Madrasah Sepanjang 2025
Ilustrasi - Sejumlah siswi madrasah terus menunjukkan tren peningkatan prestasi sepanjang tahun 2025. Kementerian Agama (Kemenag) mencatat lebih dari 8.000 prestasi siswa-siswi madrasah berhasil diukir di 2025 (Foto: Dirjen Pendis Kemenag)

KBRN, Jakarta: Prestasi siswa-siswi madrasah terus menunjukkan tren peningkatan signifikan. Sepanjang tahun 2025, Kementerian Agama (Kemenag) mencatat lebih dari 8.000 prestasi siswa madrasah.
Prestasi tersebut mulai dari tingkat nasional hingga internasional, mencakup jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA). Berdasarkan data Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, sebanyak 7.860 siswa madrasah menorehkan prestasi di level nasional.
Sementara 351 siswa lainnya berhasil mengharumkan nama Indonesia pada berbagai ajang internasional. Yakni, meliputi bidang sains, riset, dan inovasi.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Amien Suyitno, menyebut capaian tersebut sebagai bukti bahwa madrasah semakin kompetitif dan adaptif terhadap perkembangan pendidikan global. “Madrasah hari ini tidak hanya menguatkan karakter keagamaan, tetapi juga membuktikan daya saing akademik di tingkat nasional dan global,” ujar Amien di Jakarta, Rabu (31/12/2025).
Prestasi tersebut diraih melalui berbagai ajang strategis, seperti Kompetisi Sains Madrasah (KSM), Madrasah Young Researchers Supercamp (MYRES). Kemudian, Seleksi Nasional Peserta Didik Baru (SNPDB), serta sejumlah olimpiade dan kompetisi riset internasional.
Pada 2025, capaian MYRES dan Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) Riset bahkan melampaui target lebih dari 16 persen. Meski partisipasi KSM mengalami sedikit koreksi dibandingkan tahun sebelumnya.
Kemenag menilai tren tersebut menunjukkan pergeseran fokus prestasi madrasah, dari sekadar kompetisi rutin menuju penguatan riset dan inovasi sebagai basis keunggulan akademik. Dari sisi kebijakan, Direktorat KSKK Madrasah terus mendorong implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai fondasi pembelajaran.
Kurikulum ini telah melalui enam kali uji coba, disosialisasikan di 34 provinsi, serta menjadi rujukan sejumlah regulasi kurikulum madrasah. Direktur KSKK Madrasah, Nyayu Khadijah, menegaskan bahwa KBC dirancang untuk menjaga keseimbangan antara prestasi akademik dan pembentukan karakter siswa.
“Prestasi siswa harus sejalan dengan penguatan nilai kemanusiaan, spiritualitas, dan kepedulian terhadap lingkungan,” kata Nyayu. Penguatan ekoteologi juga diwujudkan melalui pengembangan 1.826 madrasah adiwiyata sebagai baseline nasional, dengan proyeksi penambahan 642 madrasah per tahun.
Sepanjang 2025, KSKK Madrasah turut menginisiasi penanaman 50.000 bibit pohon di madrasah negeri dan swasta. Pada aspek pendidikan inklusif, jumlah madrasah inklusif meningkat signifikan dari 728 lembaga pada 2023 menjadi 1.853 lembaga pada 2025.
Jumlah ini tumbuh lebih dari 155 persen dalam dua tahun. Peningkatan ini didukung penguatan regulasi, penyediaan sarana ramah disabilitas, serta pembentukan Unit Layanan Disabilitas (ULD).
Secara nasional, tercatat sebanyak 2.665 Madrasah Ramah Anak yang tersebar di berbagai provinsi dan jenjang pendidikan. Melalui skema Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC), KSKK Madrasah mengalokasikan anggaran sebesar Rp402,86 miliar untuk revitalisasi dan digitalisasi sarana prasarana madrasah.
Program ini mencakup rehabilitasi bangunan rusak serta penyediaan perangkat pembelajaran digital guna mendukung percepatan transformasi pendidikan. Madrasah juga terlibat dalam implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hingga Desember 2025, sebanyak 13.703 madrasah dengan 2,31 juta siswa telah menerima manfaat program tersebut. Selain itu, lebih dari 9,1 juta siswa madrasah tercatat memperoleh layanan pemeriksaan kesehatan gratis.
Nyayu menegaskan, penguatan prestasi siswa yang didukung intervensi kebijakan berbasis data menjadi strategi jangka panjang pendidikan madrasah. “Madrasah diposisikan sebagai instrumen pembangunan manusia—unggul secara akademik, sehat, inklusif, dan berkarakter,” ujarnya.
Sebagai bagian dari pengawalan Asta Cita Presiden, Kemenag juga memulai piloting Sekolah Garuda Transformasi pada madrasah unggulan. Pada 2025, MAN Insan Cendekia Ogan Komering Ilir (OKI) dan MAN IC Gorontalo resmi ditetapkan sebagai Sekolah Garuda.
Penetapan ini memperkuat reputasi kelembagaan madrasah, memperkaya kurikulum sains dan riset. Serta membuka akses lebih luas bagi siswa untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi luar negeri dengan pendampingan resmi Kemdiktisaintek.
Kemenag mencatat, kini lebih dari 10,5 juta siswa aktif dan sekitar 88 ribu lembaga madrasah di seluruh Indonesia. Diharapkan, penguatan mutu madrasah menjadi salah satu kunci utama dalam pencapaian agenda pembangunan sumber daya manusia nasional





